Artikel

5 Permasalahan Pendidikan di Indonesia

Sahabat Kumkel yang telah membaca tentang Sejarah dan Perkembangan Pendidikan di Indonesia, tentu mengakui betapa banyak kemajuan yang telah dicapai oleh dunia pendidikan Indonesia sejak masa Hindu-Buddha hingga masa reformasi. Namun demikian, tidak sedikit pendapat yang mengatakan bahwa permasalahan pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya  terpecahkan.

Permasalahan itulah yang membuat perkembangan pendidikan di Indonesia dari sejak diproklamasikannya kemerdekaan hingga sekarang terkesan lambat. Bahkan banyak yang mengatakan bahwa dunia pendidikan Indonesia sedang sakit, sehingga tidak mampu memberikan peran yang maksimal dalam mencerdaskan dan membentuk karakter bangsa.

Seberapa mendasar permasalahan pendidikan di Indonesia sehingga disebut sedang ‘sakit’? Berikut sejumlah persoalan pendidikan di Indonesia yang memang butuh dicarikan solusi.

Kurangnya Sarana dan Prasarana

Jika mengacu pada wilayah perkotaan, sarana dan prasarana sekolah memang bisa dibilang sudah melebihi standard yang dibutuhkan. Tapi kalau melihat kondisi di pelosok pedesaan atau di daerah-daerah yang terpencil, masih banyak dijumpai sekolah-sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, bangunan sekolah yang hampir roboh, kekurangan ruang belajar, tidak memiliki perpustakaan, media belajar yang seadanya dan berbagai persoalan sarpras lainnya.

Kurangnya sarana dan prasarana tersebut sudah barang tentu merupakan permasalahan pendidikan di Indonesia yang harus segera dipecahkan, karena mustahil peserta didik akan dapat belajar dengan maksimal jika sarana dan prasarana untuk belajar tidak dipenuhi.

Kurangnya Tenaga Pendidik

Sekali lagi, untuk mendapatkan gambaran tentang permasalahan pendidikan di Indonesia terkait dengan jumlah tenaga pendidik, jangan menjadikan wilayah kota sebagai acuan, tapi lihat kondisi sekolah-sekolah yang ada di wilayah pinggiran terlebih di daerah-daerah perbatasan.

Sekolah-sekolah yang ada di wilayah kota hampir bisa dipastikan memiliki tenaga pendidik yang rasionya selaras dengan jumlah murid. Namun tidak demikian halnya untuk daerah pinggiran, pelosok desa dan daerah-daerah perbatasan, rasio guru tidak sebanding dengan jumlah murid sehingga gurupun tidak dapat menyampaikan materi ajar dengan sempurna.

Persoalan tersebut selain secara menyeluruh disebabkan oleh kurangnya tenaga guru juga diperparah dengan penyebaran guru yang tidak merata. Akibatnya, terjadi penumpukan tenaga guru di wilayah kota dan kurangnya guru di pelosok desa.

Rendahnya Kualitas Guru

Pemberian tunjangan profesi melalui sertifikasi guru salah satu tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas guru yang selama ini dinilai rendah. Namun setelah beberapa tahun digelontorkan, pemberian tunjangan profesi tersebut ternyata hanya mampu menyentuh kesejahteraan guru yang semakin meningkat dan belum mampu mendongkrak guru dari sisi kualitas.

Padahal dari sisi kualifikasi pendidikan, pemerintah juga sudah menerapkan peraturan yang  mengharuskan guru berijazah S-1dan harus sesuai dengan mata pelajaran yang diampu, tidak seperti dulu yang hanya butuh ijazah SPG (Sekolah Pendidikan Guru) yang setingkat dengan pendidikan menengah.

Rendahnya kualitas guru tersebut merupakan permasalahan pendidikan di Indonesia yang harus segera dipecahkan, karena tidak mungkin murid akan dapat memaksimalkan potensi dan daya nalarnya jika diajar dan dididik oleh seorang guru yang kualitasnya rendah.

Kurangnya Pemerataan Pendidikan

Pemerataan pendidikan di Indonesia masih jauh dari harapan dengan melihat masih rendahnya APM (Angka Partisipasi Murni) di seluruh jenjang pendidikan, kecuali SD dan SMP yang sudah sesuai dengan harapan.

Kurangnya pemerataan pendidikan tersebut disebabkan oleh terbatasnya akses pendidikan, sehingga hanya wilayah-wilayah perkotaan saja yang dipenuhi dengan sekolah-sekolah di berbagai jenjang pendidikan, sementara wilayah-wilayah di pelosok pedesaan hanya diisi dengan lembaga SD dan SMP.

Hal tersebut menjadikan banyak anak yang tinggal di wilayah pedesaan dengan kondisi ekonomi yang rentan dan memiliki keterbatasan dalam mengakses transportasi tidak mampu mengenyam pendidikan di tingkat SMA dan Perguruan Tinggi.

Pendidikan Tidak Relevan dengan Kebutuhan

Tingginya angka pengangguran untuk lulusan SMA, Diploma dan Sarjana menjadi salah satu indikasi permasalahan pendidikan di Indonesia dari sisi relevansi antara materi yang diajarkan di sekolah dengan tingkat kebutuhan dunia kerja.

Ketidakserasian antara kurikulum yang memiliki materi kurang fungsional dengan kebutuhan dunia kerja membuat peserta didik yang telah lulus dari bangku belajar tidak tahu harus bekerja apa dan dimana karena apa yang dia pelajari tidak memiliki relevansi dengan pekerjaan yang diharapkan. Permasalahan ini pula yang membuat banyak orang harus bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan mereka.

Itulah sejumlah permasalahan pendidikan di Indonesia yang harus segera diatasi agar peran pendidikan dapat lebih maksimal dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk karakter bangsa Indonesia menjadi lebih tangguh, ulet dan memiliki daya saing yang tinggi di tengah kehidupan masyarakat global. (ak)

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close