fbpx
How ToPsychologyRelationship

Mengenal Lebih Jauh Tipe Pasangan Posesif, dan Bagaimana Menghadapinya

Memiliki pasangan posesif tentunya dapat membuat Kamu pusing dan kesal.

Apalagi jika karakter itu tidak nampak sedari awal menjalin hubungan.

Sering terjadi dimana kebanyakan orang tidak menyadari bahwa pasangannya berkarakter posesif.

Perilaku posesif terkadang disalahartikan sebagai kepedulian, protektif, dan kecemburuan.

Dalam artikel ini, kita akan membahas mengenai tipe pasangan posesif, bagaimana mengenali tanda-tandanya, dan cara menghadapinya.

Bagaimana mengenali pasangan posesif?

Agar lebih mudah membedakan antara tipe pasangan yang posesif, protektif, peduli, dan cemburuan, Kamu perlu memahami pengertiannya masing-masing terlebih dahulu.

  • Protektif : Melindungi dengan tetap memberikan kepercayaan tanpa membatasi.
  • Peduli : Perhatian dengan didasari ketulusan tanpa mengharapkan apa-apa.
  • Cemburu : Perasaan kurang atau tidak senang ketika kamu lebih memperhatikan orang lain.
  • Posesif : Melakukan semua sikap di atas dengan dasar ingin memiliki.

Setelah memahami perbedaan di atas, berikut ini adalah tanda-tanda tipe pasangan posesif :

1. Selalu mengawasi aktivitasmu.

Kamu perlu memahami perbedaan antara pasangan posesif dan yang perhatian.

Pasangan yang perhatian umumnya merindukanmu dan akan mengirim pesan teks atau menelpon sekedar menanyakan bagaimana keadaanmu, dikarenakan, interaksi ini dapat membuatnya merasa bahagia sekaligus mengobati perasaan rindu yang dia miliki.

Sebaliknya, pasangan yang posesif akan menghubungimu dikarenakan adanya insekuriti. Interaksi denganmu hanya dilakukan sebagai alasan untuk meyakinkan dirinya bahwa Kamu masih seutuhnya Dia miliki.

Pasangan posesif umumnya memiliki insekuriti dan juga sifat sulit untuk mengerti

Contoh percakapan :

Dia : Sayang lagi apa? Aku kangen.

Kamu : “Aku juga kangen, tapi nanti aja telponannya yah, aku lagi sibuk kerja sekarang.”

Dia : “Kok gitu jawabnya, kan aku kangen.”

Kamu : “Aku beneran lagi sibuk, ntar baru dilanjutin lagi yah.”

Dia : “Kamu gak sayang sama Aku yah? Aku kan Kangen. Gak usah ditutup telponnya, biar Aku temenin kamu kerja”

Dalam contoh ini, Pasangan yang posesif akan menunjukkan sikap yang tidak bisa untuk mengerti kesibukanmu.

Alih-alih ingin menemanimu, dirinya justru sedang mengawasi aktivitasmu, hal ini dikarenakan insekuritinya sendiri, yaitu perasaan takut kehilangan.

Pada dasarnya, Pasangan posesif akan mencoba memengaruhi perilakumu dengan penguatan negatif.

Setiap kali Kamu tidak memberikan perhatian penuh, dirinya mudah untuk marah dan kemungkinan besar akan menyebabkan pertengkaran atau argumen.

2. Membatasi pergaulanmu.

Setiap kali Kamu pergi berkumpul dengan teman-temanmu dan tidak bisa memberikan perhatian penuh kepadanya, maka dapat dipastikan akan ada pertengkaran nantinya.

Sehingga, Kamu perlahan mulai menghindari teman-temanmu. Kamu hanya memiliki sedikit kesempatan untuk tetap berinteraksi dengan teman maupun keluarga jika pasanganmu mengijinkannya, atau disaat Dia sedang sibuk dengan kegiatannya sendiri.

Kamu akan segera menyadari bahwa Kamu sedang berjalan di atas kulit telur. Menjalin hubungan seperti ini tentunya juga akan membuat orang-orang disekitarmu merasa tidak nyaman.

3. Suka mengkritik.

Pasangan posesif lebih cenderung suka memberi kritikan. Kritikan ini bisa mengenai pilihan karirmu, pola hidupmu, bahkan bisa berupa sesuatu yang sederhana, contohnya cara Kamu menikmati secangkir kopi.

Terkadang, cara penyampaian kritikan tersebut juga dapat menyakitkan perasaanmu.

Sikap ini biasanya mulai terlihat setelah Dia yakin bahwa Kamu mencintainya dan tidak mudah untuk meninggalkannya.

Contoh kritikan :

  • “Kamu masaknya dibumbui apa gak sih? Kok gak ada rasanya.”
  • “Ngapain bergaul sama mereka kalo gak ada untungnya sama sekali.”
  • “Cepetan kopinya diminum sebelum dingin, udah capek-capek dibuatin malah gak diminum.”
  • “Katanya pekerjaan yang sekarang udah bagus, tapi kok duitnya gak kelihatan?”

4. Membuatmu bergantung padanya.

Setelah menjalin hubungan yang cukup lama dengan pasangan posesif, kemungkinan besar Dia akan membuatmu bergantung padanya.

Sekalipun sebelumnya kamu adalah individu mandiri dan selalu penuh semangat dalam beraktivitas.

Kamu akan berusaha untuk menyenangkan pasanganmu, bisa dikatakan suasana hatimu juga bergantung terhadap perasaannya.

Apapun yang kamu lakukan harus mendapat persetujuannya terlebih dahulu, dan merasa kehilangan arah bila tanpanya.

Seperti itulah dampak ketergantungan yang umumnya terjadi setelah lama menjalin hubungan dengan pasangan posesif.

Bagaimana menghadapi pasangan posesif?

1. Hati-hati dalam memulai hubungan dan jangan terburu-buru.

Cara terbaik untuk berurusan dengan pasangan posesif adalah dengan mengetahuinya sejak dini. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, perilaku posesif tidak selalu nampak sejak pertama kali menjalin hubungan.

Banyak orang menyembunyikan sifat asli mereka, sampai merasa sedikit aman dalam hubungan. Inilah sebabnya mengapa penting untuk tidak terburu-buru saat memulai hubungan baru.

Luangkan waktumu untuk mengenal orang tersebut sebelum membuat komitmen lebih jauh. Jika ada tanda-tanda perilaku posesif, pertimbangkan secara matang untuk mengambil keputusan selanjutnya.

2. Cari tahu seberapa parah perilaku posesifnya dan apakah masih bisa diperbaiki.

Seperti hal lainnya dalam kehidupan maupun hubungan, perilaku posesif tidak sesederhana hitam dan putih saja. Seseorang dengan perilaku posesif masih bisa menjadi pasangan hidup yang baik jika dirinya mau untuk menghilangkan perilaku tersebut. Jangan langsung menolak seseorang hanya karena memiliki perilaku posesif.

Sebagian besar masalah dalam suatu hubungan, termasuk perilaku posesif, dapat diselesaikan dengan komunikasi dan pemahaman yang tepat. Bahkan jika pasanganmu menunjukkan beberapa tanda posesif, Kamu bisa belajar menghadapinya jika dirinya mau untuk berkomunikasi dan memahami.

Misalnya, pasanganmu pernah mengalami pengkhianatan di masa lalu. Bekas luka dari pengkhianatan itu bisa menjadi alasan timbulnya perilaku posesif, sehingga dirinya merasa tidak aman setiap kali Kamu pergi dengan temanmu.

Jika dirinya bersedia untuk mengkomunikasikan setiap pemicu atas perilaku posesifnya, maka ada kemungkinan untuk dapat memperbaiki perilaku tersebut.

3. Bersedia mengambil keputusan secara tegas.

Sangat mudah untuk meninggalkan hubungan jika baru dijalani beberapa bulan saja. Tetapi, bagaimana jika Kamu telah bersama selama bertahun-tahun? Bagaimana jika Kamu baru menyadari bahwa pasanganmu adalah seseorang yang posesif dan telah mengendalikan hidupmu selama menjalin hubungan?

Mungkin Kamu dibutakan oleh cinta sebelumnya, tetapi Kamu tidak tahan lagi. Pada saat yang sama, Kamu tidak mudah untuk melepasnya. Apa yang harus kamu lakukan?

Kamu perlu menetapkan batasan-batasan dan apa yang Kamu butuhkan dalam sebuah hubungan. Ini mungkin saat yang tepat untuk beristirahat sejenak dan merenungkan semuanya.

Setelah Kamu memahami situasi yang ada, baik itu batasan-batasan, kebutuhan, harapan dan tujuanmu, cobalah untuk berbicara dengannya. Jelaskan bagaimana perilaku posesif yang dia miliki membuatmu merasa tidak nyaman bersamanya, dan apa yang Kamu butuhkan dari dirinya untuk membuat hubungan itu tetap berjalan.

Jika dia bersedia untuk belajar dan memperbaiki perilaku tersebut, maka coba lagi. Tapi, cobalah untuk tidak terburu-buru kali ini.

Sama seperti ketika memulai hubungan baru. Berhati-hatilah dengan lebih peka terhadap situasi, apakah pasanganmu benar-benar ingin menjadi lebih baik ataukah hanya memalsukannya.

Seseorang yang dengan tulus ingin belajar memperbaiki dirinya ke arah lebih baik akan terbuka untuk mendengarkan dan memahami. Dirinya akan mencoba membuat perubahan serius tanpa diarahkan secara terus menerus, seperti pergi ke terapi atau membaca buku-buku pengembangan diri. Dia tidak akan selalu setuju dengan pendapatmu yang dirasa kurang nyaman untuk dilakukan.

Sebaliknya, seseorang yang hanya berpura-pura akan melakukan semua yang Kamu inginkan, setuju dengan apa yang Kamu katakan dan, dalam beberapa kasus, membiarkan Kamu memegang kendali dalam hubungan untuk sementara waktu.

Kesimpulan

Jangan biarkan ketakutan mengendalikanmu. Memiliki pasangan yang berperilaku posesif tidak selalu menjadi alasan untuk mengakhiri suatu hubungan.

Perilaku posesif dapat menjadi hasil dari trauma masa lalu atau masalah masa kecil, dan dapat diperbaiki jika Dia bersedia untuk terbuka dan mengambil tindakan-tindakan yang diperlukan.

Mempelajari perilaku ini dan berkomunikasi secara baik dengan pasanganmu dapat mencegah terjadinya hubungan ketergantungan yang berdampak buruk pada akhirnya.

Tetapi, jika Dia bukan tipe orang yang ingin belajar dan tumbuh menjadi lebih baik, Kamu harus bisa mengambil keputusan untuk pergi dan terus melangkah. Karena pada dasarnya, kebahagiaanmu ditentukan oleh dirimu sendiri.

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button