fbpx
Travel

Berkunjung ke Desa Mati di Hong Kong

Dibalik gemerlap dan modernnya Hong Kong, dia juga menyimpan misteri. Pulau Ma Wan, pulau yang berada di Distrik Tsuen Wan, dekat dengan Bandara Internasional Hong Kong memiliki cerita yang menarik untuk disimak.

Dari jauh, pulau tersebut sama dengan pemukiman nelayan pada umumnya; ada dermaga, tempat berlindung dari taifun, dan komplek berisi rumah-rumah semi permanen di pinggir pantai. Namun sekarang, Ma Wan adalah desa mati.

30 tahun lalu, Ma Wan menjadi salah satu pemukiman berkembang dengan populasi 2.000 orang, mayoritas dari warga di sana hidup dari melaut dan berkebun.

Setelah pemerintah mengusir para penghuni Ma Wan dari rumah mereka, yang tersisa kini hanyalah sekolah yang mulai runtuh, rumah-rumah miring dan telah ditinggalkan.

Sejarah Desa Ma Wan bisa ditarik hingga 250 tahun silam. Sebagai pulau kecil yang berada di pesisir utara Pulau Lantau, Pulau Ma Wan hanya seluas kurang dari satu kilometer persegi.

Legenda mengatakan, Pulau Ma Wan dipenuhi oleh harta karun bajak laut terkenal, Cheung Po-Tsai. Harta karun tersebut terletak di bawah Kap Shui Mun, jembatan yang membelah Pulau Lantau dan Ma Wan.

Pada tahun 1980an, dua ribu orang hidup di Desa Ma Wam. Desa tersebut menjadi rumah dari komunitas Lantau, lengkap dengan rumah dengan kaki-kaki kayu untuk menahan terjangan ombak. Sama seperti desa-desa nelayan yang lain, Ma Wan terkenal dengan kudapan hasil laut dan pasta udang kering.

Sampai tahun 2000, populasi penduduk Ma Wan kian menyusut hingga di angka 800. Di utara, komplek apartemen mewah, Park Island, mulai dibangun oleh Sun Hung Kai Properties. Pulau tersebut juga dibangun taman rekreasi Noah’s Ark. Akibat pembangunan tersebut penduduk Ma Wan yang memang sudah menyusut dipaksa untuk pindah dengan diberikan kompensasi.

Penduduk lokal yang telah tinggal di pulau lebih dari 99 tahun ditawarkan rumah baru di New Ma Wan Village, komplek perumahan tingkat tiga di dekat Park Island. Meski beberapa orang bahagia dengan rumah baru tersebut, ada juga penduduk lain yang tidak senang dengan tawaran tersebut. Di desa yang telah ditinggalkan, Anda masih bisa menemukan papan-papan lama berisi protes pengusiran.

Jika Anda ingin berkunjung ke Ma Wan dan merasakan sensasi desa yang telah ditinggalkan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Menemukan Desa Ma Wan akan sedikit sukar karena untuk menuju desa tersebut sudah tidak tersedia lagi bantuan papan penanda jalan. Desa Ma Wan juga tidak dipromosikan sebagai destinasi turis sehingga Anda bisa mengunjunginya dengan risiko ditanggung masing-masing.

Menyusuri jalanan tanpa petunjuk di belakang Taman Ma Wan lalu menuruni tangga batu akan membuat Anda tiba di Jalan Utama Ma Wan, lokasi di mana desa tersebut berada. Di sana Anda akan menemukan rumah-rumah panggung kayu yang telah reyot di pinggir pantai dan belasan rumah-rumah yang ditinggalkan pemiliknya.

Mayoritas dari bangunan tersebut berlantai dua atau tiga, dan dipagari dengan tanda ‘dilarang masuk’. Menyusuri Desa Ma Wan akan membuat Anda memasuki dunia yang berbeda, dunia yang sepi dan suram. Lokasinya sendiri populer untuk sesi foto prewed dan pertunangan. Dermaga yang dahulu digunakan nelayan-nelayan Ma Wan melabuhkan kapalnya menjadi lokasi memancing warga.

Menariknya, lampu jalan masih menyala di sore hari. Kuil Tin Hau sederhana masih terawat. Beberapa bangunan tua masih terlihat ada penerangan di dalamnya. Sembari mengitari Desa Ma Wan yang tidak terlalu besar, akan muncul impresi jika dahulu desa ini begitu bersemangat dan ramai. Ada taman bermain, pusat seni dan kebudayaan, dan beragam restoran, yang kebanyakan kini hanya tersisa puing-puingnya saja.

Baru-baru ini terungkap jika pembangunan Ma Wan Park digunakan hanya sebagai alasan untuk mengusir penduduk guna melancarkan apartemen Park Island. Hal tersebut terungkap setelah pengusaha-pengusaha yang terlibat di dalam pembangunan Park Island ditangkap lantaran terlibat korupsi menyuap petugas pemerintahan. (fa)

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button