ArtikelPsychology

Contoh Artikel Tentang Gender Isu Diskriminasi Di Tempat Kerja

Isu gender merupakan salah satu hal sensitif yang kerap diperdebatkan. Ranah atau cakupan topiknya pun luas, mulai dari kehidupan rumah tangga hingga profesional. Dalam ranah profesional, sering dikaitkan dengan kantor atau tempat kerja, karena sebenarnya tak jarang diskriminasi terjadi di sana. Dengan demikian artikel tentang gender yang mengangkat isu diskriminasi di tempat kerja cukup banyak bermunculan.

Artikel tentang gender cenderung bersifat kritis. Sebab memang isu gender sering dikaitkan dengan posisi wanita yang kurang mempunyai power atau peran laki-laki yang terlalu mendominasi. Adapun untuk menulis artikel bertemakan gender tidak bisa sembarangan. Seseorang harus benar-benar memahami konsep gender agar tepat memilih sudut pandang pada tulisannya. Selain itu agar permasalahan yang dibahasnya pun tepat. Di bawah ini adalah contoh dari artikel yang mengangkat isu tentang gender:

Diskriminasi Wanita di Kantor yang Jarang Disadari

Kantor merupakan tempat seseorang seharusnya dinilai secara profesional. Tidak memandang jenis kelamin, paras, ukuran tubuh, dan penilaian subjektif lainnya. Namun sayang, subjektifitas tidak dapat dilepaskan pada tempat kerja. Salah satu penilaian subjektifitas itu adalah secara gender. Gender tidak bisa disamakan dengan jenis kelamin. Gender menilai seseorang secara kedudukan dan pembagian peran, sedangkan jenis kelamin dilihat dari sisi biologisnya saja. Beberapa isu gender di tempat kerja sebagai berikut:

1. Perbedaan Gaji

Di beberapa perusahaan terkadang nominal gaji perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Hal ini diterapkan karena perusahaan tersebut memandang laki-laki adalah tulang punggung keluarga, maka mereka berhak untuk gaji lebih tinggi. Padahal kenyataannya banyak perempuan yang justru membiayai kehidupan keluarganya. Adanya perbedaan ini merupakan ketidakadilan bagi perempuan di tempat kerja.

Namun seiring dengan perkembangan zaman, banyak perempuan yang membuktikan kemampuannya setara dengan laki-laki. Dengan begitu, tidak ada lagi alasan membeda-bedakan nominal gaji selain lewat penilaian kompetensi antara keduanya.

2. Peluang Karier

Persoalan gender di tempat kerja lainnya berhubungan dengan karier. Sayangnya, hal ini masih berlangsung hingga sekarang. Perempuan dianggap tidak pantas dan kurang mampu menempati jabatan strategis. Beberapa menilai perempuan tidak perlu berada di posisi tinggi karena kalau pun mereka bekerja hanya membantu sang suami saja.

Alasan lainnya adalah peran ibu yang ditanggung oleh perempuan. Perusahaan menganggap peran utama tersebut tidak dapat dipenuhi apabila seorang perempuan berada di hierarki yang tinggi.

3. Pelecehan Seksual

Ini juga menjadi isu yang kerap didiskusikan dalam beberapa forum. Pelecehan seksual bentuknya bermacam-macam, mulai dari yang ringan hingga tak dapat ditoleransi. Pelecehan seksual yang ringan biasanya berupa candaan verbal yang berhubungan dengan fisik atau hal-hal lainnya.

Terlebih lagi apabila seorang perempuan sudah mengalami pelecehan dalam bentuk sentuhan fisik, maka itu termasuk pelecehan seksual berat. Sayangnya, tak banyak perempuan yang berani berbicara akan hal ini karena mereka menganggap ini hal yang memalukan.

4. Hukuman yang Tidak Setimpal

Alasan lain mengapa seorang perempuan tidak berani melaporkan pelecahan seksual karena takut terhadap hukuman. Secara normatif seharusnya laki-laki lah yang mendapatkan sangsi karena melakukan pelecehan. Namun tak jarang justru dari sisi perempuan yang harus berkorban, bahkan ada yang sampai dipecat karena memperkarakan hal tersebut. Hukuman ini sangat merugikan pihak perempan, maka dari itu isu sangsi kantor yang tidak setara mendapatkan pro dan kontra.

5. Tidak Diberikan Pilihan

Perempuan sering diremehkan dari segi kemampuan dan kegigihannya. Padahal ini tidak ada hubungannya apakah ia seorang perempuan atau laki-laki. Adanya sikap underestimate ini membuat perempuan tidak memiliki banyak pilihan. Misalnya, karyawan laki-laki sering diberi challenge yang apabila berhasil maka akan mendapatkan reward. Berbeda untuk perempuan yang tidak mendapatkan tawaran serupa.

Contoh lainnya adalah soal penugasan. Laki-laki cenderung diberi tugas yang menantang, sedangkan perempuan diberi tugas yang mudah saja. Ini akan berpengaruh pada perkembangan mereka, baik dari segi pengetahuan maupun kompetensi.

Artikel tentang gender di atas adalah contoh yang membahas permasalahan sehari-hari namun dianggap lumrah atau biasa. Dalam membuat artikel yang mengulas tentang gender sebaiknya memberikan rekomendasi atau solusi juga. Karena apabila tulisan hanya berisikan kritik tidak akan menyelesaikan permasalahan yang ada. Isu gender adalah sesuatu yang harus terus diperjuangkan agar perempuan mendapat kesetaraan. Namun dalam penyampaiannya pun jangan salah paham dan konsep, khawatir berdampak sebaliknya dari yang diharapkan. (BA)

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close